Thursday, December 23, 2010

AnTaRa TaKdIr DaN UsAhA






Qadha ertinya ketetapan.

Qadar ertinya Takdir, nasib ataupun untung diri.

Salah satu Rukun Iman ialah Qadha dan Qadar. Ia adalah ketetapan Tuhan mengenai nasib manusia sejak azali lagi sama ada termasuk dalam golongan orang yang beruntung ataupun sebaliknya.

Bila sebut tentang takdir mesti timbul pertanyaan tentang apa gunanya usaha jika takdir telah menentukan sesuatu kejadian itu. Sebenarnya kita tidak tahu apa yang Allah takdirkan untuk kita sama ada kita tergolong dalam orang yang baik-baik atau sebaliknya. Oleh itu kita serahkan segalanya kepada Allah disamping kita berusaha ke arah kebaikan supaya kita ditakdirkan sesuai dengan fitrah kita.

Berkaitan dengan qadha dan qadar, Rasulullah SAW bersabda seperti berikut:

”Sesungguhnya seseorang itu diciptakan dalam perut ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah, 40 hari menjadi segumpal darah, 40 hari menjadi segumpal daging, kemudian Allah mengutus malaikat untuk meniupkan roh ke dalamnya dan menuliskan empat ketentuan, yaitu tentang rezekinya, ajalnya, amal perbuatannya, dan (jalan hidupnya) sengsara atau bahagia.” (HR.Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).

Berdasarkan hadits ini tahulah kita bahwa nasib seseorang manusia itu telah ditentukan Allah sejak sebelum ia dilahirkan. Walaupun begitu ini tidak bererti bahawa kita hanya menunggu saja untung nasib kita tanpa berusaha dan ikhtiar. Manusia tetap berkewajipan untuk berusaha, sebab keberhasilan tidak datang dengan sendirinya. Dalam Surah Ar-Ra'd ayat sebelas Allah ada berfirman:

Maksudnya: Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.

Banyak dalil-dalil yang menyuruh kita berusaha dan bekerja dalam mengisi takdir yang telah ditentukan Allah SWT. Antaranya seperti Firman Allah dalam surah Al-Jumu'ah, ayat 9-10. Maksudnya:

"Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jumaat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagi mu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah kurnia Allah dan ingatlah Allah banyak supaya kamu beruntung."

Kepercayaan kepada takdir atau ketentuan Allah SWT tidak menghalang kita untuk berusaha kerana ketentuan Allah itu ada yang mempunyai syarat dan ada pula yang mutlak. Di antara yang mempunyai syarat umpamanya, hasil usaha manusia itu sendiri, jika ia berbuat baik ia akan mendapat hasil yang baik dan jika membuat aniaya dan ingkar perintah Allah, maka Allah tidak akan memberi keselamatan ke atasnya. Firman Allah dalam Surat Az-Zumar ayat 18-19, maksudnya:

"Iaitu orang-orang yang mendengarkan kata dan diturutinya mana yang paling baik. Itulah orang-orang yang dipimpin Allah dan itulah orang-orang yang berakal. Adakah orang yang sudah semestinya berlaku atasnya hukuman Tuhan (dapat ditolong)? Dapatkah engkau membebaskan orang yang di dalam neraka"

Ada juga ketentuan Allah yang tidak ada hubungannya dengan usaha manusia. Misalnya mengenai ketentuan umur, tempat meninggal dunia dan sebagainya. Tidak ada orang yang tahu di mana dan bila dia akan meninggal. Ini ketentuan Allah yang wajib kita percaya.

Seseorang yang tidak percaya takdir Allah, hatinya akan gelisah dan cemas terhadap kematian yang akan dihadapinya. Manfaat percaya kepada takdir Allah SWT:

Orang yang beriman, ia akan hidup tenteram, tidak merasa takut kerana sudah mengetahui bahawa takdir Allah itu pasti akan berlaku atas dirinya;

Orang yang beriman tidak akan merasa sedih atas segala keinginan yang tidak tercapai sebab ia tahu, perkara itu tidak ditakdirkan Allah untuk ia memperolehinya;

Orang yang beriman tidak akan merasa terlalu gembira atas segala yang diterimanya, baik berbentuk harta, anak maupun kekuasaan keana ia merupakan takdir Allah untuk dirinya. Ia hanya bersyukur dengan kurnia Allah tersebut;

Orang yang beriman akan mengerjakan sesuatu yang dibolehkan atau yang diperintahkan kepadanya dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah dengan hati dan perasaan yang tenang;

Orang yang beriman mengetahui, segala kejadian dan peristiwa itu terjadi menurut ketentuan Allah SWT, Maka ia mencari jalan yang akan membawanya ke arah kebaikan dan menghindarkan diri daripada bahaya dan kerugian.

Surah Al-Fajr, ayat 27-30 maksudnya : "Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang tenang lagi diridhai-Nya. Maka masuklah kedalam jamaah hamba-hamba-Ku, dan masuklah kedalam sorga-Ku.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment